Romance
Untuk bisa merasa bahagia di zaman sekarang ini, kelihatannya rumit sekali. Padahal syaratnya sederhana, minimal ada dua orang dan ada romance.
Dulu ada dua anak kecil sedang bermain di luar rumah. Mereka membawa beberapa kotak korek api kosong dan mulai menumpuknya. Saat kotak-kotak tersebut terjatuh, mereka tertawa. Kemudian mereka menyusunnya lagi dengan gaya yang berbeda, dan meruntuhkannya kembali. Saat yang satu tertawa, yang lain juga tertawa. Sesederhana itu mereka bisa tertawa dan merasa bahagia.
Makin dewasa, kita butuh banyak syarat agar bisa bahagia. Butuh Blackberry, mobil, rumah, dan lain-lain. Orang lebih senang yang nyata dan praktis. Tanpa sadar, jangkauan pemikiran kita semakin pendek. Semestinya pola pikir seperti ini hanya dimiliki wanita. Tapi sekarang, baik pria maupun wanita cara berpikirnya sama. Semuanya cenderung praktis. Makanya tidak heran, jika banyak orang yang susah bermimpi, karena impian adalah sesuatu yang tidak praktis dan kelihatannya tidak realistis. Preseiden yang sekarang banyak disenangi orang adalah yang bisa menjanjikan angka-angka. Berapa angka pertumbuhan ekonomi yang bisa ia tawarkan? Berapa angka pengangguran yang mampu ia turunkan? Tapi apa cita-cita bersama bangsa ini, tidak banyak yang peduli.
Dulu orang-orang Indonesia punya satu impian, yaitu ingin Indonesia merdeka dari penjajahan. Kita pun punya kebanggaan sebagai sebuah bangsa pada waktu itu. Bukan hanya di Indonesia saja, saya rasa di seluruh di Indonesia juga begitu. Sekarang ini rasanya perang dunia tidak akan pernah terjadi lagi, seperti dulu perang dunia ke-1 dan ke-2. Orang-orang tidak punya cukup idealisme untuk bersatu dan berperang. Tentara Amerika pun mau menyerang Irak karena bayarannya besar, bukan karena ada idealisme atau cita-cita yang besar.
Dalam keluarga, pemikiran-pemikiran praktis ini pun masih mendominasi. Anak-anak didorong untuk belajar yang praktis dan berguna untuk menghasilkan uang, banyak yang berpikir, tidak perlu lah.. belajar seni atau juga sastra. Kecuali kedua hal itu bisa menghasilkan uang. Padahal dari kesenia, lahirlah impian-impian besar, yang mungkin rasanya terlalu mengawang-awang. Lewat karya sastra misalnya, orang sudah bermimpi pergi ke bulan, jauh sebelum Neil Armstrong meninjakkan kakinya di bulan. Manusia mulai berpikir praktis sejak revolusi industri berhasil di Inggris. Sejak saat itu mulai banyak penemuan-penemuan yang membuat hidup manusia semakin mudah. Ini tentu bagus untuk kehidupan manusia. Namun manusia malah menjadi manja, terlalu tergantung pada alat-alat. Kebutuhan terhadap orang lain malah berkurang.
Ketika manusia lebih membutuhkan alat dibandingkan manusia lainnya, di situlah ia kehilangan kemampuan untuk mencintai. Sehingga rasanya kehidupan sekarang ini makin kehilangan romance-nya. Saat manusia tidak bergairah untuk mencintai, perlahan tapi pasti, peradaban akan musnah. Buktinya saja, pemerintah Singapura panik ketika mayoritas warganya merasa bahwa punya anak itu merepotkan. Jadi lebih praktis tida usah punya anak saja, daripada harus menambah beban hidup. Maka untuk mengatasi ini, pemerintah mendorong film-film dan karya seni lainnya yang mendorong orang untuk ingin merasakan romance. Mereka baru menyadari, ada bahay yang lebih besar dibandingkan kelesuan ekonomi, yaitu kelesuan untuk saling mencintai.
Manusia dilahirkan dengan panca indera yang sangat canggih untuk berkomunikasi. Sehingga ketika orang tidak bisa lagi berteman dan mencintai orang lain, sebenarnya itu penderitaan yang paling berat. Hukuman terberat bagi seorang penjahat adalah ketika ia harus diisolasi dalam penjara sendirian. Mungkin kelihatannya ia mendapat keistimewaan karena bisa sendirian dalam sel. Namun ketika sendirian dan tidakĀ bisa berhubungan dengan manusia lain inilah penderitaan yang paling hebat.
Romance itu suasana. Bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Untuk bisa menciptakan romance, yang dibutuhkan hanyalah orang-orang yang merasa kebersamaan mereka lebih penting dibandingkan apapun juga. Merasa bahwa bisa mencintai orang lain, jauh lebih berarti dibandingkan apapun juga. Keberhasilan seorang manusia bukanlah diukur semata-semata dari seberapa besar atau seberap banyak karya yang ia buat. Ada orang yang sukses menciptakan terobosan-terobosan hebat bagi kehidupan manusia, namun tetap saja merasa stres dan kesepian. Kesuksesan yang ia lakukan hanya untuk membuktikan diri bahwa ia lebih hebat dari orang-orang yang lainnya. Dasarnya bukan karena cinta atau sayang. Padahal sebenarnya, hubungan yang paling indah adalah hubungan yang berdasarkan rasa percaya. Percaya bahwa segala sesuatu dilakukan atas rasa sayang.
Orang-orang di dunia ini selalu digerakkan oleh kisah-kisah cinta. Sejarah membuktikan bahwa kisah-kisah legendaris dan menjadi inspirasi sepanjang masa adalah kisah cinta, bukan kisah perang, kisah kesuksesasn atau apapun juga. Misalnya saja kisah Romeo and Juliet atau Sampek-Eng-Tay.Kisah-kisah ini membuktikan bahwa to love sombody means more than anything. Uang memang perlu, namun tidak akan berarti jika tidak ada romance, uang akan sia-sia, jika hubungan di antara dua orang itu tidak ada rasa percaya bahwa mereka saling mencintai. Percaya bahwa segala sesuatu yang dilakukan orang lain kepadanya itu karena sayang.
Ini memang tidak gampang. Dalam hubungan suami istri saja proses ini terus turun naik. Namun jika bisa membangun hubungan seperti itu, barulah kita bisa merasakan indahnya hidup sebagai manusia. Dari suasana romance inilah, impian-impian yang besar akan muncul.
Sumber : Prajna Pundarika No. 408, Januari 09
