Bisnis Mocok-Mocok, Cocok Di Tengah Krisis?

Dunia memang sedang mengalami krisis global. Dampak paling nyata adalah PHK besar-besaran di perusahaan besar yang collapse. Banyak perusahaan yang  sudah lama berdiri di amerika sekalipun, terpaksa diambil alih oleh pemerintah karena sudah tidak sanggup lagi bertahan. Demikian juga halnya di Indonesia. Banyak karyawan perusahaan yang terpaksa di-PHK maupun dirumahkan untuk sementara waktu lantaran perusahaan tempat kerjanya bangkrut. Hal ini menambah angka pengangguran dan membuat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat. Memaksa kita untuk mau tidak mau harus berpikir  kerasa an pintar melihat kesempatan yang ada.

Kondisi seperti ini sudah pasti akan semakin menambah subur munculnya profesi yang sudah sekian lama ‘digemari’, Profesi pebisnis mocok-mocok. Istilah ini memang dikenal akrab di daerah Medan, tapi sebenarnya dilakukan oleh banyak orang di seluruh nusantara. Apa sebenarnya yang dimaksud bisnis mocok-mocok? Sederhananya adalah kerja serabutan, pokoknya mengambil bisnis yang memang sedang menguntungkan. Seseorang tidak lagi mempedulikan apa keahliannya yang sebenarnya. Setiap ada usaha yang memungkinkan untuk menghasilkan keuntungan (besar) pasti langsung diambil. Banyak alasan yang dikeluarkan oleh mereka. Ada yang bilang, karena gaji dari satu pekerjaan saja sudah tidak mencukupi untuk zaman sekarang. Ada juga yang beralasan bahwa setiap melihat kesempatan mendapatkan keuntungan yang harus diambil, apapun usaha itu.

Seperti misalnya Bapak Beng-Beng, 46 tahun, bukanlah nama sebenarnya. Sudah banyak pekerjaan yang pernah digeluti olehnya. Yang terakhir adalah sebagai sales sebuah perusahaan komunikasi. Dia mulai bekerja disana 2 tahun yang lalu dan semuanya baik-baik saja sampai 3 bulan yang lalu. Omsetnya menurun sehingga otomatis mempengaruhi pendapatannya. Mau tidak mau, dia mencoba untuk menerima tawaran kerjaan dari teman-temannya. Dia pernah mencoba menjual dompet, batu gerinda, bahkan sampai menarik becak, menjadi mc pernikahan dan lain-lainnya. Pokoknya kalau ada kesempatan akan dia ambil tanpa memperhitungkan prospek ke depannya. “Sebenarnya saya ingin lebih profesional dan mendalami satu pekerjaan saja. Tapi apa boleh buat, keadaan sekarang yang serba susah tidak memungkinkan. Belum lagi setiap 2-3 tahun usaha saya selalu mandeg dan mengalami kesulitan,” ungkapnya sedih, bingung bercampur pusing.

Lain lagi halnya dengan Wen-Wen, bukan nama sebenarnya, yang juga senang melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Sekarang dia bekerja di bagian accounting di perusahannya. Selain pekerjaan tetapnya, dia juga berjualan aksesori, pakaian, dan makanan ringan. Memang pertamanya dia bekerja sampingan untuk menambah pendapatan. Tapi lama-kelamaan dia sendiri juga seang dan enjoy. Bosnya juga mendukung karyawannya asal pekerjaan kantor tidak terbengkalai. Menurutnya, sebisa mungkin setiap kesempatan yang bisa menghasilkan keuntungan akan dia ambil, entah itu dia menguasainya atau tidak. “Saya melakukan itu bukan hanya untuk menambah pendapatan, tapi juga untuk bisa menambah teman dam memperluas networking donk,” ujarnya pede.

Banyak orang yang bilang, lebih baik kalau kita berbisnis di satu fokus tertentu, jangan hanya asal ada keuntungan secara finansial lalu apa saja dikerjakan. Melihat fenomena diatas, dimanakah salahnya melakukan bisnis mocok-mocok?

Mocok-mocok itu sama seperti menggali sumur yang dangkal, ketika ketemu air dia berhenti dan menikmati. Setelah air di sumur itu habis, dia akan pindah cari sumur yang lain dan terus melakukan hal yang sama. Berbeda dengan orang yang menggali sumur yang dalam, sampai ketemu sumber air yang besar dan jernih. Orang yang melakukan bisnis atau pekerjaan  mocok-mocok hanya akan berakhir dengan kesedihan. Suatu saat nanti, ketika kita sudah tua jadinya akan penuh penyesalan karena kita sudah tidak punya tenaga dan skill dan gak bisa ngapa-ngapain karena kita gak punya skill atau keahlian tertentu. Namun bukan berarti juga orang tidak boleh pindah-pindah bidang usahanya. Berbeda dengan mocok-mocok, pindah bidang usaha hanya dilakukan bila di bidang yang sedang digeluti sekarang sudah mentok, alias tidak bisa berkembang lagi. Tapi… memang ada tempat yang tidak bisa kita gali terus karena memang tidak ada airnya. Itu sama seperti kita sudah bekerja keras tapi gak ada kemajuan yang berarti, berarti kita memang gak cocok di bidang tersebut. Tapi kalu kita belum mencoba habis-habisan, berarti kita belum mentok.

Seorang pria bernama Alex pernah menceritakan sedikit kisah usahanya hingga bisa sukses seperti sekarang. “Dulu usaha saya juga mocok-mocok. Waktu saya mulai usaha dulu, dagang apa saja saya jalankan asal bisa menghasilkan uang. Mulai dari usaha celana dalam perempuan, korek api, kosmetik, sampai agen hair tonic. Lakunya memang cepat dan keuntungannya menggiurkan. Dalam 2 minggu saya bisa dapat uang di tangan bisa 2-3 juta, zaman itu,” kenangnya. Namun semuat itu tidak membuat pak Alex puas. Melainkan berpikir tidak mau lagi menjalankan usaha seperti itu yang menurutnya itu sebenarnya bukan berusaha, taoi hanya jadi tukang catut atau tukang cari untung.

“Ibu saya bilang, kalau saya melakukan seperti itu terus, saya gak akan kemana-mana. Karena semua orang bisa melakukannya. Saya setuju dengannya. Saya harus fokus dan mulai berpikir untuk berusaha dengan membangun industri sendiri, yang memang saya senang dan menguasainya,” tambahnya. “Karena saya senang dengan kosmetik dan kimia, saya akhirnya memutuskan untuk terjun di usaha itu. Memang gak langsung sukses, saya juga jatuh bangun. Tapi saya percaya, kalau saya berusaha keras pasti usaha deodorant ini bisa sukses,” ujarnya mantap.

“Sekarang kita harus merubah pola pikir. Ada pepatah bilang, usaha yang bagus tuh modalnya (termasuk kerja) kecil dan menghasilkan untung yang besar. Saya gak setuju. Saya punya prinsip usaha yang benar adalah modal (cara kerja) besar walaupun untungnya kecil. Karena dengan begitu, lama-lama untungnya akan menjadi besar dengan sendirinya,” begitulah tips kiat sukses Pak Alex.

Sumber : Prajna Pundarika No. 408, Januari 09

~ by Irwan Cheung on January 24, 2009.

One Response to “Bisnis Mocok-Mocok, Cocok Di Tengah Krisis?”

  1. bisnis yg bagus ,,,,,
    jual cd program bajakan , untung besar modal kecil :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.